Langsung ke konten utama

Postingan

Edisi cerita teman

Jadi Cowok Pendek Emang Gak Punya Hak Dicintai? I couldn’t help but wonder… Sejak kapan cinta jadi soal tinggi badan? Aku pernah pacaran sama cowok pendek. Bukan “pendek versi insecure” yang sebenernya masih 178 cm tapi gak pede foto bareng temen-temennya. No, darling. Ini beneran pendek. Pendek yang kalau jalan bareng aku, orang kira aku kakaknya. Mukanya? Gak ada yang bisa diselamatin sama angle kamera. Tititnya kecil. Literally, gak ada satu hal pun dari dia yang bisa dibilang “ideal male specimen.” Tapi… guess what? Aku masih inget dia. Bukan karena dia ganteng. Tapi karena dia ngerti gimana caranya show up. Bukan cuma soal urusan ranjang meskipun yes, dia surprisingly tau persis apa yang dia lakuin di kasur (never underestimate the short king, babe). Tapi juga karena dia ngerti hal-hal kecil yang cowok-cowok ganteng sering anggap remeh. Dia hafal pesanan kopi aku tanpa harus aku ulang. Dia tau aku punya trust issue, dan dia gak pernah maksa. Dia sabar dengerin aku marah 45 menit s...

Kematian Versi Pamona

Gua, Yumu, dan Tubuh yang Belum Selesai oleh Chinta yang idealis, dengan hubungan rumit bersama kopi sachet dan coding Excel 😘 Pernahkah kamu membayangkan sebuah gua bisa menjadi perpustakaan? Bukan untuk buku, melainkan untuk tubuh manusia arsip kehidupan yang belum selesai. Aku masih ingat jelas saat pertama kali memasuki Gua Tangkaboba di daerah Pamona. Langkah pertama itu seperti membuka pintu ke dunia lain: udara langsung lembap, suasana sangat sunyi, dan jujur saja, aku cukup gugup ini gua sungguhan, bukan seperti gua yang biasa muncul di katalog wisata. Namun, lebih dari itu, yang membuatku tercengang adalah suasananya yang sakral sekaligus apa adanya. Gua ini bukan hanya tempat menyimpan tulang; ini adalah arsip budaya yang masih hidup.  Yumu: Arsip Tubuh yang Belum Usai Yumu—peti kayu untuk jenazah—adalah simbol yang kuat di sana. Bentuknya menyerupai rumah kecil, kadang mirip perahu. Ini bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol perubahan status. Dalam banyak sistem ...

Pisau Bermata Dua

Sebuah Perenungan Tentang Aku dan Papa Aku dan Papa adalah dua batu yang tak pernah benar-benar bertemu, tapi saling membentuk bentang alam yang sama. Ia tidak pernah mengajarkanku cara mencintai secara lembut, tapi ia menunjukkan bagaimana berpikir dengan kepala dingin di tengah dunia yang gaduh. Dan sejak kecil, aku belajar mencintai bukan dengan pelukan, tapi dengan debat. Papa adalah mantan aktivis. Di masa kanakku, ia adalah suara yang keras di dalam rumah yang sepi. Ia tidak pernah bertanya padaku, “Apa kabar hari ini?” tapi ia akan dengan serius mengajakku mendiskusikan politik luar negeri, sistem ketimpangan kelas, dan mengapa revolusi tak boleh setengah hati. Ia tidak menuntunku ke dapur untuk mengajari cara membuat teh manis, tapi ia duduk di sampingku, mengajarkan bagaimana berpikir radikal. Dan begitulah aku tumbuh. Bukan sebagai anak perempuan manis yang mengenakan pita dan bermain boneka, tapi sebagai versi kecil dari seorang pria yang lebih banyak bicara tentang ide dari...

Hutan Hujan dan Beruang dari Kutub

Hutan Hujan dan Beruang dari Kutub Dulu, aku adalah hutan hujan tropis lebat, rimbun, basah oleh embun harapan. aku menyambut siapa saja yang datang dengan tangan terbuka dari akar-akar yang panjang. Aku menyayangi setiap yang berlalu, dan menyimpan kisah mereka di celah batang dan bunga yang mekar. Lalu datanglah singa megah, mengaum dengan janji kekuasaan. Ia menari di atas tanahku, berlari di antara ilalang, dan kukira ia ingin tinggal. Namun, ia bukan ingin berteduh. Ia merusak. Mengoyak semak, membakar alang-alang, membuat burung-burung pergi, dan aliran sungaiku kering dalam kesedihan yang tak bersuara. Aku marah. Aku memerintahkan seluruh penghuni pergi. Aku tutup pintu-pintu rimbaku, aku tak ingin siapa pun menginjak tanahku lagi. Namun ada dua yang bertahan: seekor monyet ceria yang suka berceloteh dan seekor sapi sabar yang senyumnya seperti matahari sore. Mereka tinggal. Mereka membersihkan reruntuhan dengan ketulusan yang tenang. Mereka menanam kembali bunga, menyiram luka-...

Nggak Apa-Apa Kok Kalau Kamu Capek Duluan

Nggak Apa-Apa Kok Kalau Kamu Capek Duluan Untuk kamu yang pernah berjuang sendirian tanpa tahu arahnya ke mana. Kamu pernah nggak sih, suka sama seseorang, tapi rasanya kayak lagi ngobrol sendirian di ruang kosong? Kamu kasih perhatian, tapi dibalas singkat. Kamu kirim pesan panjang, tapi cuma dapat “udah” atau “oke.” Kamu bertanya-tanya terus: “Aku salah apa ya?” Padahal, sebenarnya kamu nggak salah. Kadang, kita terlalu sibuk membuktikan bahwa kita layak dicintai, sampai lupa kalau dicintai itu bukan sesuatu yang harus dibuktikan mati-matian apalagi kalau kita sendirian yang usaha. Mungkin kamu udah kasih yang terbaik. Mungkin kamu bahkan sampai ngerasa, “kok aku aja yang mikirin semuanya, ya?” Tapi, tahu nggak? Itu bukan karena kamu lemah. Itu karena kamu punya hati yang besar. Dan itu indah tapi juga melelahkan. Jadi kalau kamu merasa capek, itu wajar. Kalau kamu akhirnya mundur, itu bukan berarti kamu kalah. Kamu cuma milih untuk sayang sama diri sendiri duluan. Kamu sadar, kalau ...

A Latter for someone in 2023

Aku takut jatuh cinta, karena jika aku jatuh cinta, tidak ada kata setengah-setengah. Maka, ketika kali ini aku jatuh cinta tanpa menemukan sebabnya, aku merasa menggali kuburku sendiri. Dan ternyata prediksiku tepat. Aku sempat hancur sehancur-hancurnya. Tapi Tuhan sudah menetapkanku untuk merasakannya. Dan aku sangat bersyukur untuk pengalaman ini, terima kasih :). Kemudian pemahaman itu datang. kehancuranku yang pertama adalah karena ekspektasi, kehancuranku kali ini karena ekspektasi juga. Bukan salah cintanya, tapi yang salah adalah aku yang menaruh harapan dan ekspektasi.  Akhirnya aku paham, cinta dan ekspektasi sering dicampur adukkan, Ini resep kehancuran. Aku sedang belajar, untuk tetap mencintai namun melepaskan diri dari ekspektasi dan harapan.  Cinta ya cinta. Titik. Ada jenis cinta yang tetap subur, meskipun kita tidak membersamai ia yang kita kasihi. Cinta yang melepaskan segala bentuk keterikatan. Cinta yang memerdekakan diri dan ia yang kita cintai.  Maka...

Cantik akan menjadi luka, jika rasanya belum merdeka.

Merdeka dari KBBI bermakna bebas (dari perhambaan, penjajahan dan sebagainya); berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat; tidak bergantung pada orang lain; leluasa. Bagaimana? Cantik merdeka itu jika dia tetap melangkah ke depan. Siap dengan perang pemikiran mengadapi ideologi penjajahan. Mampu tegap berdiri sendiri dengan penuh percaya diri. Tidak terkena pengaruh negatif yang banyak berkelana, tetapi afirmatif positif. Lepas dari tuntutan standar kecantikan pendapat orang kebanyakan. Tidak terikat bayang-bayang masa lalu yang memikat. Tidak bergantung pada hal yang membuat buntung. Tidak gemar membuang waktu pada hal yang tidak bermutu. Leluasa cantik menjadi pribadi yang menarik potensi versi masing-masing dan berperilaku apik bukan malah nyentrik. Untukmu wanita di mana pun berada. Semoga selalu ingat selamanya. Cantikmu harus merdeka, karena kamu sangat berharga.