Langsung ke konten utama

Pisau Bermata Dua

Sebuah Perenungan Tentang Aku dan Papa

Aku dan Papa adalah dua batu yang tak pernah benar-benar bertemu, tapi saling membentuk bentang alam yang sama. Ia tidak pernah mengajarkanku cara mencintai secara lembut, tapi ia menunjukkan bagaimana berpikir dengan kepala dingin di tengah dunia yang gaduh. Dan sejak kecil, aku belajar mencintai bukan dengan pelukan, tapi dengan debat.

Papa adalah mantan aktivis. Di masa kanakku, ia adalah suara yang keras di dalam rumah yang sepi. Ia tidak pernah bertanya padaku, “Apa kabar hari ini?” tapi ia akan dengan serius mengajakku mendiskusikan politik luar negeri, sistem ketimpangan kelas, dan mengapa revolusi tak boleh setengah hati. Ia tidak menuntunku ke dapur untuk mengajari cara membuat teh manis, tapi ia duduk di sampingku, mengajarkan bagaimana berpikir radikal.

Dan begitulah aku tumbuh. Bukan sebagai anak perempuan manis yang mengenakan pita dan bermain boneka, tapi sebagai versi kecil dari seorang pria yang lebih banyak bicara tentang ide daripada perasaan.

Aku membenci itu dulu. Tapi kini aku menyadari, aku adalah refleksi dari apa yang tak pernah benar-benar aku terima: kehadiran emosional.

John Bowlby, dalam teori attachment, menekankan pentingnya emotional attunement dalam membentuk pola hubungan anak di masa dewasa. Kehadiran emosional orangtua terutama dalam validasi afeksi dan emosi anak berperan besar dalam pembentukan secure base yang memungkinkan anak bertumbuh dalam kelekatan yang sehat.

Namun, ayahku tidak hadir sebagai secure base. Ia hadir sebagai ideolog base, fondasi berpikir dan berperilaku yang keras, teguh, tanpa kompromi. Maka dalam struktur psikologis relasiku dengannya, kelekatan kami bukan secure, tapi dismissive-avoidant.

Menurut Bartholomew dan Horowitz (1991), individu dengan tipe dismissive avoidant attachment cenderung mengembangkan otonomi ekstrem dan menjauh dari kelekatan emosional karena merasa tidak mendapatkan dukungan afektif yang memadai di masa kecil. Mereka belajar bahwa mengandalkan orang lain adalah risiko, dan ekspresi emosi adalah kelemahan.

Dan mungkin itu menjelaskan mengapa aku merasa lebih nyaman dengan jarak. Bahkan pada orang yang paling dekat sekalipun, aku selalu punya pagar. Hubunganku dengan Papa adalah pagar itu: tinggi, rapi, dan tampak kokoh dari luar.

Papa mencintaiku,aku tahu itu. Tapi caranya tidak pernah bisa kupahami sebagai anak yang merindukan pelukan. Ia menunjukkan cintanya dengan mengoreksi cara aku berpikir, bukan dengan mengusap rambutku ketika aku menangis. Ia hadir di pikiranku, tapi tidak di hatiku. Dan anehnya, aku menjadi sangat seperti dia: tangguh, keras kepala, analitis, dan takut menunjukkan kerentanan.

Dalam tulisanku, aku sering membedah orang lain. Tapi kali ini, aku ingin membedah kenapa aku tak pernah bisa akrab dengan ayahku sendiri. Kenapa setiap percakapan kami terasa seperti seminar ideologi yang kaku. Kenapa aku selalu merasa kecil, bukan karena dimarahi, tapi karena tak pernah dimengerti sebagai manusia yang ingin dimanusiakan.

Dalam teori psikoanalisis, Freud menyebutkan bahwa seorang anak sering kali membentuk identitas dengan meniru atau menolak figur otoritatif dalam hal ini, ayah. Aku menirunya. Aku menjadi “mini dia” bukan karena aku ingin, tapi karena aku tahu itu satu-satunya cara untuk terlihat oleh matanya.

Namun, yang tak kusadari, dengan menjadi dia, aku juga kehilangan sebagian dari diriku sendiri. Aku menjadi keras, bukan karena aku begitu, tapi karena itu satu-satunya bahasa yang ia ajarkan. Aku menjadi tahan banting, bukan karena aku kuat, tapi karena itu satu-satunya cara bertahan hidup dalam rumah yang penuh debat dan sedikit pelukan.

Kini, di usiaku yang ke-23, aku mulai mencari bahasa lain. Aku belajar berbicara dengan ibuku, meski masih canggung. Aku mulai membuka ruang dalam diriku untuk menjadi lembut tanpa merasa lemah. Aku tidak ingin menyalahkan Papa, tapi aku ingin memahami warisan emosional yang ia tinggalkan: keras kepala, prinsip yang tak bisa digoyahkan, dan rasa cinta yang diam-diam.

Mungkin, ini bukan soal aku dan dia. Tapi soal dua manusia yang sama-sama belum belajar cara saling menyentuh dengan hati.

Dan hari ini, aku menulis ini bukan untuk menuduh, tapi untuk merawat luka yang bahkan belum sempat aku beri nama. Karena dalam perjalanan mencintai diriku sendiri, aku harus lebih dulu berdamai dengan bentuk cinta yang paling pertama kali kuterima meski tidak kumengerti.

Aku tidak tahu apakah aku dan Papa akan pernah bisa benar-benar akrab. Tapi aku tahu satu hal: aku adalah hasil dari cinta yang tidak diekspresikan dengan kata-kata, tapi dengan warisan nilai, pemikiran, dan sikap.

Dan aku? Aku sedang belajar untuk mencintai dengan cara yang lebih hangat. Agar jika kelak aku punya anak, ia tak perlu menulis refleksi seperti ini untuk bisa merasa dekat dengan ibunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kematian Versi Pamona

Gua, Yumu, dan Tubuh yang Belum Selesai oleh Chinta yang idealis, dengan hubungan rumit bersama kopi sachet dan coding Excel 😘 Pernahkah kamu membayangkan sebuah gua bisa menjadi perpustakaan? Bukan untuk buku, melainkan untuk tubuh manusia arsip kehidupan yang belum selesai. Aku masih ingat jelas saat pertama kali memasuki Gua Tangkaboba di daerah Pamona. Langkah pertama itu seperti membuka pintu ke dunia lain: udara langsung lembap, suasana sangat sunyi, dan jujur saja, aku cukup gugup ini gua sungguhan, bukan seperti gua yang biasa muncul di katalog wisata. Namun, lebih dari itu, yang membuatku tercengang adalah suasananya yang sakral sekaligus apa adanya. Gua ini bukan hanya tempat menyimpan tulang; ini adalah arsip budaya yang masih hidup.  Yumu: Arsip Tubuh yang Belum Usai Yumu—peti kayu untuk jenazah—adalah simbol yang kuat di sana. Bentuknya menyerupai rumah kecil, kadang mirip perahu. Ini bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol perubahan status. Dalam banyak sistem ...

Hutan Hujan dan Beruang dari Kutub

Hutan Hujan dan Beruang dari Kutub Dulu, aku adalah hutan hujan tropis lebat, rimbun, basah oleh embun harapan. aku menyambut siapa saja yang datang dengan tangan terbuka dari akar-akar yang panjang. Aku menyayangi setiap yang berlalu, dan menyimpan kisah mereka di celah batang dan bunga yang mekar. Lalu datanglah singa megah, mengaum dengan janji kekuasaan. Ia menari di atas tanahku, berlari di antara ilalang, dan kukira ia ingin tinggal. Namun, ia bukan ingin berteduh. Ia merusak. Mengoyak semak, membakar alang-alang, membuat burung-burung pergi, dan aliran sungaiku kering dalam kesedihan yang tak bersuara. Aku marah. Aku memerintahkan seluruh penghuni pergi. Aku tutup pintu-pintu rimbaku, aku tak ingin siapa pun menginjak tanahku lagi. Namun ada dua yang bertahan: seekor monyet ceria yang suka berceloteh dan seekor sapi sabar yang senyumnya seperti matahari sore. Mereka tinggal. Mereka membersihkan reruntuhan dengan ketulusan yang tenang. Mereka menanam kembali bunga, menyiram luka-...

Bare Minimum Itu Dua Arah

Bare Minimum Itu Dua Arah Tentang Relasi, Tanggung Jawab Emosional, dan Keberanian Berkaca Minggu lalu, saya ketemu Clara di kafe langganan kami. Dia datang terburu-buru, rambut setengah basah, tas ransel penuh buku psikologi yang sepertinya belum dibaca, tapi mata berbinar seperti orang yang baru saja menemukan jawaban atas pertanyaan eksistensial. “Gue baru selesai baca jurnal tentang emotional regulation,” katanya sambil melempar tas ke kursi sebelah. “Dan gue sadar satu hal: kita semua munafik soal bare minimum.” Clara adalah mahasiswa psikologi semester akhir yang punya kebiasaan aneh: dia suka menganalisis timeline media sosial seperti sedang mengerjakan case study. Gila? Iya. Bijak? Sangat—meskipun kadang bijaknya terasa menyebalkan karena terlalu akurat. “Maksud lo?” saya balas sambil menyeruput kopi yang sudah dingin. “Lo scroll timeline belakangan ini?” tanyanya. “Penuh banget sama cuitan soal laki-laki yang cuma kasih bare minimum. Dianter pulang aja dibilang bare minimum. D...