Geografi Gender di Rumah Kita Sendiri Ada pemandangan yang familiar di banyak rumah kita: ketika tamu datang, laki-laki berkumpul di ruang tamu—duduk di sofa, mungkin membicarakan pekerjaan, politik, atau bisnis. Sementara itu, perempuan—apapun latar belakang mereka—entah bagaimana selalu berakhir di dapur, meski rumah itu juga milik mereka. Ini bukan kebetulan. Ini adalah peta kekuasaan yang sudah kita internalisasi begitu dalam hingga hampir tidak terlihat. Dapur sebagai “Ruang Aman” Perempuan Kita sering mendengar dapur disebut sebagai “kerajaan perempuan,” seolah-olah itu adalah pemberian kekuasaan. Tapi mari kita jujur: ini adalah kekuasaan yang terbatas, yang dikurung dalam empat dinding dengan kulkas dan kompor. Sementara “kerajaan” laki-laki adalah ruang tamu, ruang kerja, dan pada akhirnya—dunia luar. Yang lebih menyedihkan: pembagian ini terjadi apapun kelas sosial perempuan tersebut. Seorang dokter, pengacara, atau eksekutif perusahaan—begitu ia masuk ke rumah temannya seb...
Pukul Sebelas Sampai Empat: Percakapan dengan Seorang Pengembara Catatan dari sebuah panggilan telepon yang berlangsung lima jam, antara seorang sahabat yang mendengarkan dan seorang pengembara yang akhirnya bicara Jam menunjukkan pukul empat pagi waktu Indonesia Tengah ketika jari-jariku mengetik kalimat pertama ini. Di Jogja, mungkin masih pukul tiga. Aku membayangkan sahabatku yang kusebut “si pengembara” sudah tertidur sekarang, meskipun aku tidak yakin. Dia tadi bilang sulit tidur. Ini berawal dari hal sepele. Aku bercerita tentang tulisan blog yang baru kuselesaikan. Dia merespons. Lalu entah bagaimana, percakapan kami merambat ke tempat-tempat yang lebih dalam, lebih gelap, lebih jujur. Seperti biasa, ketika malam sudah larut dan pertahanan psikologis kita mulai runtuh, hal-hal yang tersimpan rapat di siang hari mulai keluar. Ini bukan tulisan seorang psikolog. Aku bukan ahli. Aku hanya seorang sahabat yang kebetulan mendengarkan dengan cukup teliti, dan mencoba menuangkan apa...