Langsung ke konten utama

Postingan

Ruang Tamu untuk Papa, Dapur untuk Mama

​ Geografi Gender di Rumah Kita Sendiri Ada pemandangan yang familiar di banyak rumah kita: ketika tamu datang, laki-laki berkumpul di ruang tamu—duduk di sofa, mungkin membicarakan pekerjaan, politik, atau bisnis. Sementara itu, perempuan—apapun latar belakang mereka—entah bagaimana selalu berakhir di dapur, meski rumah itu juga milik mereka. Ini bukan kebetulan. Ini adalah peta kekuasaan yang sudah kita internalisasi begitu dalam hingga hampir tidak terlihat. Dapur sebagai “Ruang Aman” Perempuan Kita sering mendengar dapur disebut sebagai “kerajaan perempuan,” seolah-olah itu adalah pemberian kekuasaan. Tapi mari kita jujur: ini adalah kekuasaan yang terbatas, yang dikurung dalam empat dinding dengan kulkas dan kompor. Sementara “kerajaan” laki-laki adalah ruang tamu, ruang kerja, dan pada akhirnya—dunia luar. Yang lebih menyedihkan: pembagian ini terjadi apapun kelas sosial perempuan tersebut. Seorang dokter, pengacara, atau eksekutif perusahaan—begitu ia masuk ke rumah temannya seb...
Postingan terbaru

Edisi Teman

​ Pukul Sebelas Sampai Empat: Percakapan dengan Seorang Pengembara Catatan dari sebuah panggilan telepon yang berlangsung lima jam, antara seorang sahabat yang mendengarkan dan seorang pengembara yang akhirnya bicara Jam menunjukkan pukul empat pagi waktu Indonesia Tengah ketika jari-jariku mengetik kalimat pertama ini. Di Jogja, mungkin masih pukul tiga. Aku membayangkan sahabatku yang kusebut “si pengembara” sudah tertidur sekarang, meskipun aku tidak yakin. Dia tadi bilang sulit tidur. Ini berawal dari hal sepele. Aku bercerita tentang tulisan blog yang baru kuselesaikan. Dia merespons. Lalu entah bagaimana, percakapan kami merambat ke tempat-tempat yang lebih dalam, lebih gelap, lebih jujur. Seperti biasa, ketika malam sudah larut dan pertahanan psikologis kita mulai runtuh, hal-hal yang tersimpan rapat di siang hari mulai keluar. Ini bukan tulisan seorang psikolog. Aku bukan ahli. Aku hanya seorang sahabat yang kebetulan mendengarkan dengan cukup teliti, dan mencoba menuangkan apa...

Bare Minimum Itu Dua Arah

Bare Minimum Itu Dua Arah Tentang Relasi, Tanggung Jawab Emosional, dan Keberanian Berkaca Minggu lalu, saya ketemu Clara di kafe langganan kami. Dia datang terburu-buru, rambut setengah basah, tas ransel penuh buku psikologi yang sepertinya belum dibaca, tapi mata berbinar seperti orang yang baru saja menemukan jawaban atas pertanyaan eksistensial. “Gue baru selesai baca jurnal tentang emotional regulation,” katanya sambil melempar tas ke kursi sebelah. “Dan gue sadar satu hal: kita semua munafik soal bare minimum.” Clara adalah mahasiswa psikologi semester akhir yang punya kebiasaan aneh: dia suka menganalisis timeline media sosial seperti sedang mengerjakan case study. Gila? Iya. Bijak? Sangat—meskipun kadang bijaknya terasa menyebalkan karena terlalu akurat. “Maksud lo?” saya balas sambil menyeruput kopi yang sudah dingin. “Lo scroll timeline belakangan ini?” tanyanya. “Penuh banget sama cuitan soal laki-laki yang cuma kasih bare minimum. Dianter pulang aja dibilang bare minimum. D...

Edisi Film

Sepotong Refleksi Setelah Call Me Chihiro Ada malam-malam yang datang pelan, tanpa suara, hanya membawa rasa hangat yang merayap lembut ke dada. Hari ini, aku menonton Call Me Chihiro, sebuah film yang rasanya seperti hujan tipis di sore hari diam, menenangkan, tapi perlahan membasuh bagian hati yang lama tak disentuh. Chihiro berjalan sendirian, tapi tak pernah benar-benar sepi. Ia memeluk dunia dengan caranya sendiri, memungut sunyi di sudut-sudut kota, menanamkan benih hangat dalam tatapan orang-orang yang ia temui. Aku jatuh cinta pada caranya merawat luka, tanpa bertanya panjang, tanpa perlu alasan rumit. Seperti seseorang yang menaruh selimut di bahumu saat kau tertidur, diam-diam, penuh kasih. Film ini mengajarkanku bahwa kesendirian tidak selalu berarti kehilangan. Terkadang, ia adalah ruang untuk bertumbuh, untuk mendengar lagi bisikan hati sendiri, untuk merayakan detak yang kita lupakan saat terlalu sibuk mengejar dunia. Ada ketenangan yang menetes perlahan, menyejukkan, sea...

Edisi cerita teman

Jadi Cowok Pendek Emang Gak Punya Hak Dicintai? I couldn’t help but wonder… Sejak kapan cinta jadi soal tinggi badan? Aku pernah pacaran sama cowok pendek. Bukan “pendek versi insecure” yang sebenernya masih 178 cm tapi gak pede foto bareng temen-temennya. No, darling. Ini beneran pendek. Pendek yang kalau jalan bareng aku, orang kira aku kakaknya. Mukanya? Gak ada yang bisa diselamatin sama angle kamera. Tititnya kecil. Literally, gak ada satu hal pun dari dia yang bisa dibilang “ideal male specimen.” Tapi… guess what? Aku masih inget dia. Bukan karena dia ganteng. Tapi karena dia ngerti gimana caranya show up. Bukan cuma soal urusan ranjang meskipun yes, dia surprisingly tau persis apa yang dia lakuin di kasur (never underestimate the short king, babe). Tapi juga karena dia ngerti hal-hal kecil yang cowok-cowok ganteng sering anggap remeh. Dia hafal pesanan kopi aku tanpa harus aku ulang. Dia tau aku punya trust issue, dan dia gak pernah maksa. Dia sabar dengerin aku marah 45 menit s...