Pukul Sebelas Sampai Empat: Percakapan dengan Seorang Pengembara Catatan dari sebuah panggilan telepon yang berlangsung lima jam, antara seorang sahabat yang mendengarkan dan seorang pengembara yang akhirnya bicara Jam menunjukkan pukul empat pagi waktu Indonesia Tengah ketika jari-jariku mengetik kalimat pertama ini. Di Jogja, mungkin masih pukul tiga. Aku membayangkan sahabatku yang kusebut “si pengembara” sudah tertidur sekarang, meskipun aku tidak yakin. Dia tadi bilang sulit tidur. Ini berawal dari hal sepele. Aku bercerita tentang tulisan blog yang baru kuselesaikan. Dia merespons. Lalu entah bagaimana, percakapan kami merambat ke tempat-tempat yang lebih dalam, lebih gelap, lebih jujur. Seperti biasa, ketika malam sudah larut dan pertahanan psikologis kita mulai runtuh, hal-hal yang tersimpan rapat di siang hari mulai keluar. Ini bukan tulisan seorang psikolog. Aku bukan ahli. Aku hanya seorang sahabat yang kebetulan mendengarkan dengan cukup teliti, dan mencoba menuangkan apa...
Bare Minimum Itu Dua Arah Tentang Relasi, Tanggung Jawab Emosional, dan Keberanian Berkaca Minggu lalu, saya ketemu Clara di kafe langganan kami. Dia datang terburu-buru, rambut setengah basah, tas ransel penuh buku psikologi yang sepertinya belum dibaca, tapi mata berbinar seperti orang yang baru saja menemukan jawaban atas pertanyaan eksistensial. “Gue baru selesai baca jurnal tentang emotional regulation,” katanya sambil melempar tas ke kursi sebelah. “Dan gue sadar satu hal: kita semua munafik soal bare minimum.” Clara adalah mahasiswa psikologi semester akhir yang punya kebiasaan aneh: dia suka menganalisis timeline media sosial seperti sedang mengerjakan case study. Gila? Iya. Bijak? Sangat—meskipun kadang bijaknya terasa menyebalkan karena terlalu akurat. “Maksud lo?” saya balas sambil menyeruput kopi yang sudah dingin. “Lo scroll timeline belakangan ini?” tanyanya. “Penuh banget sama cuitan soal laki-laki yang cuma kasih bare minimum. Dianter pulang aja dibilang bare minimum. D...