Langsung ke konten utama

Nggak Apa-Apa Kok Kalau Kamu Capek Duluan

Nggak Apa-Apa Kok Kalau Kamu Capek Duluan



Untuk kamu yang pernah berjuang sendirian tanpa tahu arahnya ke mana.

Kamu pernah nggak sih, suka sama seseorang, tapi rasanya kayak lagi ngobrol sendirian di ruang kosong? Kamu kasih perhatian, tapi dibalas singkat. Kamu kirim pesan panjang, tapi cuma dapat “udah” atau “oke.” Kamu bertanya-tanya terus: “Aku salah apa ya?” Padahal, sebenarnya kamu nggak salah.

Kadang, kita terlalu sibuk membuktikan bahwa kita layak dicintai, sampai lupa kalau dicintai itu bukan sesuatu yang harus dibuktikan mati-matian apalagi kalau kita sendirian yang usaha.

Mungkin kamu udah kasih yang terbaik. Mungkin kamu bahkan sampai ngerasa, “kok aku aja yang mikirin semuanya, ya?” Tapi, tahu nggak? Itu bukan karena kamu lemah. Itu karena kamu punya hati yang besar. Dan itu indah tapi juga melelahkan.

Jadi kalau kamu merasa capek, itu wajar. Kalau kamu akhirnya mundur, itu bukan berarti kamu kalah. Kamu cuma milih untuk sayang sama diri sendiri duluan. Kamu sadar, kalau cinta itu seharusnya tenang, bukan bikin kamu begadang mikirin yang nggak pasti.

To all the girls out there yang lagi healing pelan-pelan, yang lagi belajar ikhlas tanpa harus drama, yang lagi ngelatih diri buat nggak buru-buru buka hati lagi kalian nggak sendiri.

Karena kita, para perempuan muda, berhak banget untuk dicintai… tanpa harus minta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hutan Hujan dan Beruang dari Kutub

Hutan Hujan dan Beruang dari Kutub Dulu, aku adalah hutan hujan tropis lebat, rimbun, basah oleh embun harapan. aku menyambut siapa saja yang datang dengan tangan terbuka dari akar-akar yang panjang. Aku menyayangi setiap yang berlalu, dan menyimpan kisah mereka di celah batang dan bunga yang mekar. Lalu datanglah singa megah, mengaum dengan janji kekuasaan. Ia menari di atas tanahku, berlari di antara ilalang, dan kukira ia ingin tinggal. Namun, ia bukan ingin berteduh. Ia merusak. Mengoyak semak, membakar alang-alang, membuat burung-burung pergi, dan aliran sungaiku kering dalam kesedihan yang tak bersuara. Aku marah. Aku memerintahkan seluruh penghuni pergi. Aku tutup pintu-pintu rimbaku, aku tak ingin siapa pun menginjak tanahku lagi. Namun ada dua yang bertahan: seekor monyet ceria yang suka berceloteh dan seekor sapi sabar yang senyumnya seperti matahari sore. Mereka tinggal. Mereka membersihkan reruntuhan dengan ketulusan yang tenang. Mereka menanam kembali bunga, menyiram luka-...

Bare Minimum Itu Dua Arah

Bare Minimum Itu Dua Arah Tentang Relasi, Tanggung Jawab Emosional, dan Keberanian Berkaca Minggu lalu, saya ketemu Clara di kafe langganan kami. Dia datang terburu-buru, rambut setengah basah, tas ransel penuh buku psikologi yang sepertinya belum dibaca, tapi mata berbinar seperti orang yang baru saja menemukan jawaban atas pertanyaan eksistensial. “Gue baru selesai baca jurnal tentang emotional regulation,” katanya sambil melempar tas ke kursi sebelah. “Dan gue sadar satu hal: kita semua munafik soal bare minimum.” Clara adalah mahasiswa psikologi semester akhir yang punya kebiasaan aneh: dia suka menganalisis timeline media sosial seperti sedang mengerjakan case study. Gila? Iya. Bijak? Sangat—meskipun kadang bijaknya terasa menyebalkan karena terlalu akurat. “Maksud lo?” saya balas sambil menyeruput kopi yang sudah dingin. “Lo scroll timeline belakangan ini?” tanyanya. “Penuh banget sama cuitan soal laki-laki yang cuma kasih bare minimum. Dianter pulang aja dibilang bare minimum. D...

Edisi Teman

​ Pukul Sebelas Sampai Empat: Percakapan dengan Seorang Pengembara Catatan dari sebuah panggilan telepon yang berlangsung lima jam, antara seorang sahabat yang mendengarkan dan seorang pengembara yang akhirnya bicara Jam menunjukkan pukul empat pagi waktu Indonesia Tengah ketika jari-jariku mengetik kalimat pertama ini. Di Jogja, mungkin masih pukul tiga. Aku membayangkan sahabatku yang kusebut “si pengembara” sudah tertidur sekarang, meskipun aku tidak yakin. Dia tadi bilang sulit tidur. Ini berawal dari hal sepele. Aku bercerita tentang tulisan blog yang baru kuselesaikan. Dia merespons. Lalu entah bagaimana, percakapan kami merambat ke tempat-tempat yang lebih dalam, lebih gelap, lebih jujur. Seperti biasa, ketika malam sudah larut dan pertahanan psikologis kita mulai runtuh, hal-hal yang tersimpan rapat di siang hari mulai keluar. Ini bukan tulisan seorang psikolog. Aku bukan ahli. Aku hanya seorang sahabat yang kebetulan mendengarkan dengan cukup teliti, dan mencoba menuangkan apa...