Langsung ke konten utama

Hutan Hujan dan Beruang dari Kutub

Hutan Hujan dan Beruang dari Kutub


Dulu, aku adalah hutan hujan tropis
lebat, rimbun, basah oleh embun harapan.
aku menyambut siapa saja yang datang dengan tangan terbuka dari akar-akar yang panjang.

Aku menyayangi setiap yang berlalu,
dan menyimpan kisah mereka di celah batang dan bunga yang mekar.

Lalu datanglah singa
megah, mengaum dengan janji kekuasaan.
Ia menari di atas tanahku,
berlari di antara ilalang,
dan kukira ia ingin tinggal.

Namun, ia bukan ingin berteduh.
Ia merusak.
Mengoyak semak, membakar alang-alang,
membuat burung-burung pergi, dan aliran sungaiku kering dalam kesedihan yang tak bersuara.

Aku marah.
Aku memerintahkan seluruh penghuni pergi.
Aku tutup pintu-pintu rimbaku,
aku tak ingin siapa pun menginjak tanahku lagi.

Namun ada dua yang bertahan:
seekor monyet ceria yang suka berceloteh
dan seekor sapi sabar yang senyumnya seperti matahari sore.

Mereka tinggal.
Mereka membersihkan reruntuhan dengan ketulusan yang tenang.
Mereka menanam kembali bunga,
menyiram luka-lukaku dengan tawa,
dan menyanyikan lagu-lagu sederhana saat malam turun.

Hari demi hari berlalu,
dan suatu sore, di antara pelangi dan kabut tipis,
monyet menatapku dengan mata cerdasnya dan berkata,
“Sudah saatnya, Hutan. Kau layak dikunjungi lagi.”
Aku diam. Aku ragu. Tapi aku percaya dia.

Lalu datanglah makhluk asing yang belum pernah kulihat sebelumnya:
seekor beruang kutub.
Putih, besar, dan canggung.

Ia tak tahu cara berjalan di tanah lembekku,
tak terbiasa dengan hujan yang tiba-tiba turun tanpa aba-aba.
Namun ia mencoba.
Ia mendongakkan kepala menatap kanopi hijauku,
ia belajar menghindari duri di semak,
dan ia duduk diam berjam-jam hanya untuk mendengarkan suara serangga.

Ia tak banyak bicara,
tapi ada sesuatu di matanya yang membuat pohon-pohonku kembali berbunga.
Untuk pertama kalinya, setelah lama,
aku biarkan seseorang masuk lagi.

Aku menumbuhkan padang rumput untuk tempatnya berbaring,
menyanyikan suara air terjun untuk menenangkannya,
dan menyimpan jejak kakinya dengan hati-hati di tanahku yang baru pulih.

Namun… beruang kutub berasal dari kutub.
Ia tak betah lama di panas dan hujan yang tak pasti.
Perlahan, langkahnya makin pelan,
ia berhenti menjelajah,
dan hanya duduk jauh, menatap tanpa kata.

Aku, hutan yang belajar mencintai lagi,
tidak tahu bagaimana menahan yang tak ingin bertahan.
Tapi aku tahu satu hal:
aku bukan rumah bagi siapa pun yang hanya ingin lewat.

Kini, aku kembali rimbun.
Tidak sama seperti dulu,
tapi lebih kuat, lebih sadar, lebih indah dengan bekas-bekas luka yang kupelihara.

Dan tentang beruang kutub
mungkin ia hanya singgah.
Mungkin ia hanya perlu tahu bahwa bahkan hutan yang pernah rusak pun bisa memberi ruang hangat.

Dan aku?
Aku tak lagi marah.
Aku hanya hutan,
yang pernah belajar memberi
dan kini sedang belajar melepaskan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kematian Versi Pamona

Gua, Yumu, dan Tubuh yang Belum Selesai oleh Chinta yang idealis, dengan hubungan rumit bersama kopi sachet dan coding Excel 😘 Pernahkah kamu membayangkan sebuah gua bisa menjadi perpustakaan? Bukan untuk buku, melainkan untuk tubuh manusia arsip kehidupan yang belum selesai. Aku masih ingat jelas saat pertama kali memasuki Gua Tangkaboba di daerah Pamona. Langkah pertama itu seperti membuka pintu ke dunia lain: udara langsung lembap, suasana sangat sunyi, dan jujur saja, aku cukup gugup ini gua sungguhan, bukan seperti gua yang biasa muncul di katalog wisata. Namun, lebih dari itu, yang membuatku tercengang adalah suasananya yang sakral sekaligus apa adanya. Gua ini bukan hanya tempat menyimpan tulang; ini adalah arsip budaya yang masih hidup.  Yumu: Arsip Tubuh yang Belum Usai Yumu—peti kayu untuk jenazah—adalah simbol yang kuat di sana. Bentuknya menyerupai rumah kecil, kadang mirip perahu. Ini bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol perubahan status. Dalam banyak sistem ...

Bare Minimum Itu Dua Arah

Bare Minimum Itu Dua Arah Tentang Relasi, Tanggung Jawab Emosional, dan Keberanian Berkaca Minggu lalu, saya ketemu Clara di kafe langganan kami. Dia datang terburu-buru, rambut setengah basah, tas ransel penuh buku psikologi yang sepertinya belum dibaca, tapi mata berbinar seperti orang yang baru saja menemukan jawaban atas pertanyaan eksistensial. “Gue baru selesai baca jurnal tentang emotional regulation,” katanya sambil melempar tas ke kursi sebelah. “Dan gue sadar satu hal: kita semua munafik soal bare minimum.” Clara adalah mahasiswa psikologi semester akhir yang punya kebiasaan aneh: dia suka menganalisis timeline media sosial seperti sedang mengerjakan case study. Gila? Iya. Bijak? Sangat—meskipun kadang bijaknya terasa menyebalkan karena terlalu akurat. “Maksud lo?” saya balas sambil menyeruput kopi yang sudah dingin. “Lo scroll timeline belakangan ini?” tanyanya. “Penuh banget sama cuitan soal laki-laki yang cuma kasih bare minimum. Dianter pulang aja dibilang bare minimum. D...