Pukul Sebelas Sampai Empat: Percakapan dengan Seorang Pengembara
Catatan dari sebuah panggilan telepon yang berlangsung lima jam, antara seorang sahabat yang mendengarkan dan seorang pengembara yang akhirnya bicara
Jam menunjukkan pukul empat pagi waktu Indonesia Tengah ketika jari-jariku mengetik kalimat pertama ini. Di Jogja, mungkin masih pukul tiga. Aku membayangkan sahabatku yang kusebut “si pengembara” sudah tertidur sekarang, meskipun aku tidak yakin. Dia tadi bilang sulit tidur.
Ini berawal dari hal sepele. Aku bercerita tentang tulisan blog yang baru kuselesaikan. Dia merespons. Lalu entah bagaimana, percakapan kami merambat ke tempat-tempat yang lebih dalam, lebih gelap, lebih jujur. Seperti biasa, ketika malam sudah larut dan pertahanan psikologis kita mulai runtuh, hal-hal yang tersimpan rapat di siang hari mulai keluar.
Ini bukan tulisan seorang psikolog. Aku bukan ahli. Aku hanya seorang sahabat yang kebetulan mendengarkan dengan cukup teliti, dan mencoba menuangkan apa yang kudengar sambil sesekali memaki si pengembara dalam hati, sambil bertanya-tanya kenapa dia begitu bodoh sekaligus begitu bijak, kenapa dia begitu sakit sekaligus begitu kuat.
Mari kita mulai dari awal. Mari kita mulai dari Pengembara .
Pengembara tumbuh dalam keluarga yang broken. Istilah itu terdengar klise, aku tahu, tapi tidak ada kata lain yang lebih tepat. Dan malam ini, dia menceritakan semuanya dengan detail yang membuatku ingin menampar sekaligus memeluknya.
Ibunya seorang pendeta. Bayangkan: seorang perempuan yang berdiri di mimbar setiap minggu, berbicara tentang kasih Tuhan, pengampunan, dan belas kasihan. Tapi di rumah, dia adalah sosok yang keras, strict, dan sangat suka ngomel. “Mama selalu ngebacot, Cin. Selalu,” katanya.
Ayahnya berbeda. Tenang, pendiam, jarang bicara. Tapi keheningan itu bukan kedamaian—itu ketegangan. Karena ketika ayahnya marah, dia marah besar. Marah yang menghancurkan.
Sialan, pikirku dalam hati. Kau tumbuh di antara neraka verbal dan neraka diam. Tidak ada tempat aman.
Dua ekstrem ini menciptakan satu kekacauan emosional. Pengembara kecil tidak pernah tahu apakah dia aman atau tidak. Dia tidak pernah tahu apakah hari ini dia akan dimarahi ibunya, atau apakah ayahnya akan meledak. Dia tumbuh dalam ketidakpastian kronis.
Dan kau belajar satu hal yang salah, sahabatku: bahwa cinta itu berbahaya. Bahwa kehadiran itu mengancam. Bahwa lebih baik kau pergi sebelum semuanya meledak.
Ada satu kalimat yang sampai hari ini masih membekas di hati pengembara. Kalimat yang diucapkan ibunya dalam satu momen kemarahan: “Mama menyesal melahirkanmu.”
Aku terdiam ketika dia mengatakan ini. Jantungku seperti diremas. Sialan. Sialan. Sialan. Bukan “Mama marah sama kamu.” Bukan “Mama kecewa.” Tapi “Mama menyesal melahirkanmu.” Itu bukan sekadar kata-kata. Itu penolakan eksistensial. Itu cara paling telanjang untuk mengatakan kepada seorang anak: Keberadaanmu adalah kesalahan.
Pengembara bercerita tentang momen itu dengan suara yang datar, tapi aku bisa merasakan getarannya lewat telepon. Dia bilang, reaksinya waktu itu adalah melempar pisau ke arah ibunya. “Kalau begitu bunuh saja saya,” katanya sambil melempar pisau itu.
Hei bodoh, iya sahabatku yang bodoh, kau tahu apa yang kau lakukan waktu itu? Kau tidak ingin mati. Kau ingin didengar. Kau ingin seseorang—siapa saja—mengatakan bahwa kau layak hidup. Tapi tidak ada yang bilang itu, kan?
“Aku selalu kabur dari battlefield, Cin,” katanya. “Karena aku tahu kalau aku tinggal, aku bakal meledak. Dan kalau aku meledak, aku bakal jadi kayak mereka.”
Bacot sekali kau, kau lari bukan karena kau pengecut. Kau lari karena kau takut jadi monster. Dan itu… itu mulia sekaligus tragis. Karena kau tidak pernah belajar bahwa marah itu boleh. Bahwa emosi itu tidak harus meledak kalau kau punya ruang yang aman untuk merasakannya.
Lalu datanglah momen ketika semuanya mulai runtuh. Pengembara berumur 21 tahun ketika pertengkaran orang tuanya mencapai puncaknya. Hubungan kedua orang tuanya sudah di ujung tanduk. Dan dia, alih-alih membiarkan mereka menyelesaikannya sendiri, mengambil peran yang seharusnya tidak pernah menjadi perannya.
Dia bertanya kepada ayahnya: “Papa mau apa?” Dia bertanya kepada ibunya: “Mama mau apa?” Dia, anak berusia 21 tahun, menjadi mediator bagi dua orang dewasa yang seharusnya bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Bodoh, makiku dalam hati. Kenapa kau mengambil tanggung jawab itu? Kenapa kau merasa itu tugasmu?
Tapi aku tahu jawabannya. Karena sejak kecil, Pengembara selalu jadi perekat. Dia selalu jadi yang menghentikan pertengkaran. Dia selalu jadi yang memastikan semuanya tidak benar-benar hancur. Tapi kali ini, beban itu semakin berat.
Ayahnya seorang pensiunan. Dia sudah mengumpulkan uang untuk membiayai pendidikan pengembara dan kakaknya sampai selesai. Uang itu adalah harapan. Uang itu adalah jaminan bahwa meskipun rumah mereka hancur, setidaknya masa depan mereka aman. Tapi kakaknya menghabiskan uang itu dalam sekejap.
Kata Pengembara. “Yang pasti, tiba-tiba uang itu habis. Dan aku harus kerja. Aku harus biayai kuliahku sendiri. Dan kuliahnya dia juga.”
Kau tahu apa yang salah di sini, huh? Kau mengambil tanggung jawab yang bukan tanggung jawabmu. Lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Jadi sang pengembara bekerja. Dia kuliah sambil bekerja, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk kakaknya yang menghabiskan uang yang seharusnya jadi milik mereka berdua. Tapi beban itu masih belum cukup.
Suatu hari, ayahnya pulang dengan membawa penyakit IMS—infeksi menular seksual. Dan dia menularkan penyakit itu kepada ibunya. Pengembara menceritakan ini dengan suara yang hampir berbisik. “Yang lebih parah, Cin, Mama curhat ke aku. Mama cerita soal itu ke aku. Ke anaknya.”
Anjing. Maaf, tapi itu yang muncul di kepalaku. Bukan untuk Pengembara. Untuk orang tuanya. Kau bukan suaminya. Kau bukan terapisnya. Kau anaknya. Dan mereka menjadikanmu tempat pembuangan emosi mereka. Mereka melanggar batas paling fundamental antara orang tua dan anak.
“Aku nggak tahu harus ngapain, Cin. Aku cuma bisa dengar. Dan aku ngerasa… aku ngerasa semua beban itu ada di pundakku.”
Lalu datanglah momen di mana sang pengembara akhirnya meledak. Dia menangis. Dia berteriak. Dia mengatakan hal-hal yang selama ini dia pendam.
Kepada ayahnya, dia bilang: “Aku capek jadi anakmu. Aku capek menghentikan peranmu. Aku capek A, aku capek B, aku capek C.”
Kepada ibunya, dia bilang: “Aku capek jadi suamimu. Aku capek A, B, dan C.”
Kepada kakaknya, dia bilang: “Aku capek jadi kakak sekaligus adik buatmu. Aku capek.”
Akhirnya, pikirku. Akhirnya kau bilang itu. Akhirnya kau marah. Tapi kenapa harus sampai separah ini baru kau berani bilang?
Ibunya merespons dengan kalimat: “Pergilah. Mending aku yang sakit, jangan anak-anakku.” Dan tidak lama setelah itu, orang tuanya resmi bercerai.
Rumah yang sudah retak akhirnya runtuh total. Dan sang pengembara, yang selama ini menjadi penyangga, tiba-tiba tidak punya tempat untuk berdiri.
Kau tahu apa yang terjadi pada dirimu sejak saat itu? Kau mulai percaya satu hal yang keliru: bahwa dunia tidak berjalan tanpa kamu. Bahwa kalau kau tidak jadi penyangga, semuanya akan hancur. Dan keyakinan itu… keyakinan itu akan menghantui setiap hubunganmu setelah ini.
Sang pengembara mulai bertanya: “Apa itu rumah?” “Kalau rumah bukan rumah, Cin, terus rumah itu apa?”
Dan di sinilah blind spot pertamamu. Kau mencari rumah di orang lain. Kau mencari tempat pulang di orang lain. Tapi kau tidak pernah belajar bahwa rumah itu bukan tempat. Rumah itu perasaan. Perasaan bahwa kau aman. Dan kau tidak akan pernah merasa aman di orang lain kalau kau tidak merasa aman di dirimu sendiri.
Dalam perjalanan hidup sang pengembara, ada beberapa perempuan yang mengisi hatinya. Yang pertama—mari kita sebut dia sebagai A. Hubungannya dengan A adalah hubungan yang rahasia tapi berlayer. Mereka satu kantor, jadi konflik pekerjaan dan konflik personal saling tumpang tindih. Bayangkan: bertengkar sebagai pasangan, lalu harus bekerja bersama keesokan harinya.
Pengembara bilang, “Aku selalu menekan emosiku kalau bareng dia, Cin. Aku nggak bisa marah. Aku nggak bisa ngomong apa yang sebenarnya aku rasain. Karena aku takut kalau aku marah, hubungan kami bakal hancur.”
Dan di sinilah pola itu terulang. Kau menekan emosimu. Lagi. Seperti yang kau lakukan di rumah. Seperti yang kau lakukan sejak kecil.
Tapi emosi yang ditekan tidak hilang. Emosi itu menumpuk. Seperti balon yang terus diisi udara tanpa henti. Pada satu titik, Pengembara memintaku melakukan sesuatu yang aneh. Dia bilang, “Cin, ambil pulpen yang kamu pegang.”
Aku mengambil pulpen. “Sekarang tusuk tanganmu.”
Aku menusuk tanganku pelan dengan ujung pulpen. “Sakit, weh.”
“Lagi.” Aku menusuk lagi. “Sakit.”
“Lagi.” “Sakittt.”
“Kalau sakit, kenapa nggak stop?”
Aku terdiam. Hey, kau tahu kenapa kita tidak stop? Karena kita sudah terbiasa dengan sakit. Karena sakit itu familiar. Karena kita tidak tahu seperti apa rasanya tidak sakit.
Pengembara melanjutkan, “Nah, analoginya kayak gitu, Cin. Ketika kamu sudah nyadar itu sakit, ya stop. Selesai. Menurutku, luka itu justru bikin kita bertumbuh. Tapi kita hanya perlu momen sadar untuk membuat luka itu jadi pertumbuhan.”
Kau benar. Tapi kau tahu apa masalahmu? Kau terlalu lama membiarkan dirimu terluka sebelum kau sadar. Kau terlalu loyal pada rasa sakit.
Hubungan Pengembara dengan A berlangsung selama tiga tahun. Mereka living together seperti suami istri. Tidak ada ruang pribadi. Tidak ada jarak. A menggantungkan seluruh hidupnya pada Pengembara, dan Pengembara —seperti biasa—menjadi penyangga.
“Dia menganggapku sebagai universe, Cin. Kemana-mana, dia bergantung sama aku. Aku nggak punya space sendiri. Dan itu… itu melelahkan.”
Pengembara punya satu keinginan sederhana: “Aku pengen pasanganku jadi tempat pulang, Cin. Tapi gimana mau pulang kalau dia dipunggungku terus? Ini namanya bekerja.”
Dan ini blind spot keduamu. Kau tertarik pada orang yang butuh kamu. Bukan yang mencintaimu, tapi yang BUTUH kamu. Karena kau sudah terlatih untuk merasa berharga hanya ketika kau berguna. Kau tidak tahu bagaimana dicintai tanpa harus menyelamatkan.
Dia bilang, “Orang yang bergantung dan orang yang digantung itu sama-sama berat, Cin.”
Kau tahu itu. Tapi kau tetap memilih orang yang bergantung. Kenapa? Karena familiar? Karena kau takut kalau kau tidak dibutuhkan, kau tidak akan dicintai?
Akhirnya, balon itu meledak. Hubungan mereka berakhir.Pengembara tidak menyebut A sebagai luka. Dia menyebutnya sebagai “turbulensi” atau “titik balik.” Artinya, A bukan sumber rasa sakit, tapi pemicu kesadaran.
Bagus. Setidaknya kau bisa melihat itu sebagai pembelajaran. Tapi pertanyaannya: apakah kau benar-benar belajar? Atau kau hanya memindahkan pola yang sama ke orang berikutnya?
Setelah A, ada perempuan lain. Perempuan yang sangat membuat pengembara sakit sampai hari ini—mari kita sebut dia B. Pengembara diselingkuhi oleh B. Dan pengkhianatan itu menghancurkan sesuatu di dalam dirinya.
“Aku kehilangan rasa berharga, Cin,” katanya. “Aku merasa… aku nggak cukup. Aku nggak cukup baik. Aku nggak cukup layak.”
Dan di sinilah kau jatuh ke lubang paling dalam. Kau sudah dilatih sejak kecil untuk percaya bahwa kau tidak cukup. Mama bilang dia menyesal melahirkanmu. Papa pergi secara emosional. A menguras energimu. Dan sekarang B mengkhianatimu. Dan kau… kau mulai percaya bahwa semua itu karena ada yang salah dengan dirimu.
Lalu Pengembara melakukan sesuatu yang dia sendiri sadar keliru: dia mencari validasi dari perempuan-perempuan lain melalui seks. “Aku having sex sama banyak perempuan, Cin. Dan yang parahnya, setelah itu, aku minta review.”
Aku tersentak mendengar ini. “Review?”
“Iya. Aku tanya, ‘Gimana tadi? Oke nggak?’ Kayak aku butuh konfirmasi bahwa aku masih… layak.”
Sialan. Kau menggunakan tubuh mereka untuk mengisi lubang di hatimu. Dan kau tahu itu tidak akan pernah cukup. Karena lubang itu bukan soal seks. Lubang itu soal rasa berharga. Dan rasa berharga tidak bisa datang dari orang lain. Harus dari dirimu sendiri.
Ini bukan tentang nafsu. Ini tentang kehampaan. Pengembara menggunakan tubuh perempuan lain untuk mengisi lubang eksistensial di dalam dirinya—lubang yang terbentuk dari pengkhianatan, dari penolakan, dari rasa tidak cukup yang sudah dia rasakan sejak kecil.
“Aku sadar itu kosong, Cin. Aku sadar aku cuma jadiin mereka pelampiasan. Tapi aku nggak tahu harus ngapain lagi.”
Setidaknya kau sadar. Tapi kesadaran tanpa tindakan itu sama saja.
Pengembara bilang dia bertumbuh karena dia sadar. Dia selalu membutuhkan “jalan,” membutuhkan “tamparan” untuk sadar. “Aku capek, Cin. Aku capek berhubungan sama orang yang nggak genuine, bahkan untuk diri mereka sendiri. Semua orang selalu berlindung di balik citra.”
Dan kau tidak sadar, bahwa kau juga berlindung di balik citra. Citra sebagai orang yang kuat. Citra sebagai orang yang bisa mengatasi semuanya. Citra sebagai penyelamat. Padahal di dalam, kau juga sakit. Kau juga rapuh. Tapi kau tidak pernah membiarkan orang lain melihat itu.
Lalu Pengembara bertemu C. Suaranya berubah ketika dia menyebut perempuan ini. Ada kehangatan, tapi juga ada kepedihan yang dalam.
“Dia itu kayak mimpi, Cin. Dia perempuan yang… setara. Dewasa. Aku nggak perlu jaga dia. Aku nggak perlu jadi universe dia. Dia punya hidupnya sendiri. Dan itu… itu bikin aku mudah banget untuk mendefinisikan cinta.”
Mereka bertemu tanpa sengaja di sebuah klub. Tidak ada rencana, tidak ada ekspektasi. Tapi ada koneksi. Aku bertanya, “Apa the best part dari dia?”
Pengembara terdiam sejenak, lalu menceritakan satu momen. “Suatu kali aku ngeluh soal kerjaan, Cin. Banyak banget deadline, capek, pengen nyerah. Terus dia bilang, ‘hey, kamu akan jadi kepala keluarga. Jadi jangan terlalu banyak ngeluh soal pekerjaan, ya.’”
“Dan itu… itu bikin aku kayak banteng yang ada apinya, Cin. Aku langsung semangat lagi.”
kau tahu kenapa kau jatuh cinta sama dia? Karena dia menantangmu. Karena dia tidak mengasihanimu. Karena dia memperlakukanmu seperti laki-laki dewasa, bukan anak kecil yang butuh diselamatkan.
Aku tersenyum mendengar ini. Tapi senyumku pudar ketika Pengembara melanjutkan. “Tapi… dia juga pernah bilang, ‘You’re pathetic. Kamu menyedihkan.’”
Hening. “Dan dia benar, Cin. Aku memang menyedihkan.
Tidak. Kau tidak menyedihkan. Kau sedang sakit. Dan ada perbedaan besar di antara keduanya.
Pada malam itu, Pengembara sedang scrolling chat-nya dengan C. Dan tiba-tiba aku merasakan kesedihannya. Aku tahu dia kangen. Aku tahu ada sesuatu yang masih tersangkut di sana. “Sickly and I can’t heal,” bisiknya. “Perempuan ini warna merah pekat, Cin.”
Lalu dia menyalakan sebatang rokok dan memakiku: “Cinta, kau kontol.” Aku hanya tersenyum. Karena aku tahu: aku baru saja membuka ruang-ruang yang sudah dia tutup rapat-rapat di dalam hatinya.
Pengembara bilang C merespons dia dengan sangat dewasa. Kicks him on the spot. Tidak ada basa-basi, tidak ada drama. Hanya keputusan tegas: ini tidak akan berjalan. “Dia terlalu dewasa, Cin. Dan aku… aku terlalu dewasa untuk umurku.”
Atau mungkin, kau terlalu takut. Takut sama perempuan yang tidak butuh diselamatkan. Takut sama perempuan yang melihat kau apa adanya dan tetap pergi. Karena kalau dia pergi meskipun kau sudah memberikan segalanya, itu artinya masalahnya bukan soal kau tidak cukup memberi. Masalahnya mungkin memang soal compatibility. Dan itu lebih menyakitkan, kan? Karena itu artinya kau tidak bisa “memperbaiki” situasinya dengan berkorban lebih banyak.
Lalu aku mengatakan sesuatu yang mungkin menyakitkan, tapi harus dikatakan. “Hei sahabatku, maaf kalau aku harus bilang ini. Tapi menurutku… kamu menarik figur perempuan yang seperti mamamu. Keras di luar, kelihatan independen, cerdas. Tapi sebenarnya di dalam, sakit dan rapuh.”
Pengembara terdiam lama. Kau diam karena kau tahu aku benar, kan? Dan ini blind spot ketigamu. Kau mencari ibumu di setiap perempuan yang kau cintai. Bukan karena kau ingin disakiti, tapi karena kau ingin “memperbaiki” cerita itu. Kau ingin membuktikan bahwa kau bisa membuat perempuan keras seperti itu bahagia. Kau ingin membuktikan bahwa kau cukup. Tapi, kau tidak bisa menyembuhkan luka masa kecilmu lewat hubungan romantis. Itu bukan tugas pasanganmu. Itu tugasmu.
“Aku capek, Cin. Aku nggak mau punya backpack lagi. Aku mau punya rumah.”
Setelah C, ada perempuan lain—sebut saja D. Perempuan yang belum move on dari pasangannya. Dan Pengembara, entah kenapa, hadir untuk dia. “Dia do darts for me, Cin. Dia lempar panah emosi dia ke aku.”
Dan kau menerimanya. Lagi. Kenapa? Kenapa kau selalu hadir untuk orang yang tidak bisa hadir utuh untukmu?
Aku terdiam, lalu berkata pelan, “hey, kamu hadir di setiap luka dia. Tapi dia nggak pernah hadir di dirimu dengan utuh.”
Pengembara tidak menjawab. Tapi aku tahu dia mengerti.
“Kamu sangat peka sama orang lain, Pengembara. Mungkin karena kamu punya emotional intelligence yang tinggi.”
Dia menyangkal. “Bukan, Cin. Itu karena aku bertumbuh dari luka.”
Dan di sinilah blind spot keempatm. Kau sangat peka terhadap kebutuhan orang lain, tapi kau buta terhadap kebutuhanmu sendiri. Kau bisa membaca emosi orang lain dengan sangat detail, tapi kau mengabaikan emosimu sendiri. Kau hadir untuk semua orang, tapi siapa yang hadir untukmu?
Kau belajar empati bukan dari cinta. Kau belajar empati dari ketakutan. Dari kebutuhan untuk bertahan. Dan itu berbeda.
Aku bertanya, “hey sahabatku, apa itu love menurutmu?”
Pengembara memejamkan mata, tersenyum, lalu menjawab dengan cara yang hanya dia bisa lakukan.
“Kalau cinta disebut makanan, maka dia itu rendang. Butuh waktu lama untuk masak, butuh santan yang banyak, butuh api yang tepat. Tapi kalau sudah jadi, dia bertahan lama. Dan rasanya… dalam.”
“Kalau cinta disebut barang, maka dia itu komputer super canggih. Butuh energi banyak untuk nyalain. Butuh perawatan. Tapi kalau sudah jalan, dia bisa ngerjain banyak hal sekaligus.”
“Kalau cinta adalah perempuan, maka dia perempuan yang datang dengan skincare mahalnya. Aku harus siap menanggung semua itu, dan rela kalau suatu saat dia pergi.”
“Kalau cinta adalah minuman, maka dia espresso di siang hari, jam dua. Pahit, tapi bikin hidup. Datang di waktu yang tepat, meskipun nggak selalu nyaman.”
Hey Pengembara, kau tahu apa yang aku lihat dari semua analogi ini? Kau melihat cinta sebagai sesuatu yang mahal. Sesuatu yang butuh pengorbanan besar. Sesuatu yang harus kau tanggung. Dan kau selalu siap untuk ditinggalkan. Tapi kau tidak pernah bilang: cinta itu aman. Cinta itu rumah. Cinta itu tempat aku bisa istirahat. Cinta itu tidak sulit
Aku tertegun. Lalu bertanya lagi, “And what would you do for love?”
Dia menjawab tanpa ragu. “Aku akan masak rendang dengan santan yang berlimpah. Aku akan ciptakan energi yang cukup untuk nyalain komputer itu. Aku akan tunggu di jam dua dengan espresso di tangan. Aku akan siap dengan semua konsekuensinya.”
“Aku akan kasih semua yang aku punya, Cin.”
Dan ini blind spot terbesarmu. Kau tahu cara memberi. Kau sangat ahli dalam memberi. Tapi kau tidak tahu cara menerima. Kau tidak percaya bahwa kau layak menerima tanpa harus membayarnya dengan pengorbanan.
Tapi lalu dia menambahkan, dengan suara yang lebih pelan: “Tapi aku nggak tahu… apakah aku boleh nerima tanpa harus kasih dulu.”
Akhirnya. Akhirnya kau mengatakan itu.
Dan aku ingin berteriak: Boleh. Kau boleh menerima. Kau boleh dicintai tanpa harus menyelamatkan siapa-siapa. Kau boleh istirahat. Tapi aku hanya diam. Karena aku tahu, ini bukan sesuatu yang bisa aku katakan kepadanya. Ini sesuatu yang harus dia temukan sendiri.
Komentar
Posting Komentar