Langsung ke konten utama

Edisi Film

Sepotong Refleksi Setelah Call Me Chihiro


Ada malam-malam yang datang pelan, tanpa suara, hanya membawa rasa hangat yang merayap lembut ke dada.

Hari ini, aku menonton Call Me Chihiro, sebuah film yang rasanya seperti hujan tipis di sore hari diam, menenangkan, tapi perlahan membasuh bagian hati yang lama tak disentuh.

Chihiro berjalan sendirian, tapi tak pernah benar-benar sepi.

Ia memeluk dunia dengan caranya sendiri, memungut sunyi di sudut-sudut kota, menanamkan benih hangat dalam tatapan orang-orang yang ia temui.

Aku jatuh cinta pada caranya merawat luka, tanpa bertanya panjang, tanpa perlu alasan rumit.

Seperti seseorang yang menaruh selimut di bahumu saat kau tertidur, diam-diam, penuh kasih.

Film ini mengajarkanku bahwa kesendirian tidak selalu berarti kehilangan.

Terkadang, ia adalah ruang untuk bertumbuh, untuk mendengar lagi bisikan hati sendiri, untuk merayakan detak yang kita lupakan saat terlalu sibuk mengejar dunia.

Ada ketenangan yang menetes perlahan, menyejukkan, seakan berkata: “Tidak apa-apa. Pelan saja. Sunyi pun bisa menjadi taman yang penuh bunga.”

Malam ini, aku ingin menatap langit lebih lama.

Membiarkan kesunyian duduk di sampingku, menenangkan napas yang sering tergesa.

Aku ingin merawat luka-luka kecil di dalam dada seperti Chihiro merawat orang-orang di tepi laut lembut, penuh sabar, dan setia.

Dan besok, aku ingin berjalan lebih pelan.

Mendengar suara angin, merasakan cahaya pagi di kulit, dan membisik pada diri sendiri:

“Aku baik-baik saja. Bahkan sunyi pun bisa menjadi rumah.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bare Minimum Itu Dua Arah

Bare Minimum Itu Dua Arah Tentang Relasi, Tanggung Jawab Emosional, dan Keberanian Berkaca Minggu lalu, saya ketemu Clara di kafe langganan kami. Dia datang terburu-buru, rambut setengah basah, tas ransel penuh buku psikologi yang sepertinya belum dibaca, tapi mata berbinar seperti orang yang baru saja menemukan jawaban atas pertanyaan eksistensial. “Gue baru selesai baca jurnal tentang emotional regulation,” katanya sambil melempar tas ke kursi sebelah. “Dan gue sadar satu hal: kita semua munafik soal bare minimum.” Clara adalah mahasiswa psikologi semester akhir yang punya kebiasaan aneh: dia suka menganalisis timeline media sosial seperti sedang mengerjakan case study. Gila? Iya. Bijak? Sangat—meskipun kadang bijaknya terasa menyebalkan karena terlalu akurat. “Maksud lo?” saya balas sambil menyeruput kopi yang sudah dingin. “Lo scroll timeline belakangan ini?” tanyanya. “Penuh banget sama cuitan soal laki-laki yang cuma kasih bare minimum. Dianter pulang aja dibilang bare minimum. D...

Edisi Teman

​ Pukul Sebelas Sampai Empat: Percakapan dengan Seorang Pengembara Catatan dari sebuah panggilan telepon yang berlangsung lima jam, antara seorang sahabat yang mendengarkan dan seorang pengembara yang akhirnya bicara Jam menunjukkan pukul empat pagi waktu Indonesia Tengah ketika jari-jariku mengetik kalimat pertama ini. Di Jogja, mungkin masih pukul tiga. Aku membayangkan sahabatku yang kusebut “si pengembara” sudah tertidur sekarang, meskipun aku tidak yakin. Dia tadi bilang sulit tidur. Ini berawal dari hal sepele. Aku bercerita tentang tulisan blog yang baru kuselesaikan. Dia merespons. Lalu entah bagaimana, percakapan kami merambat ke tempat-tempat yang lebih dalam, lebih gelap, lebih jujur. Seperti biasa, ketika malam sudah larut dan pertahanan psikologis kita mulai runtuh, hal-hal yang tersimpan rapat di siang hari mulai keluar. Ini bukan tulisan seorang psikolog. Aku bukan ahli. Aku hanya seorang sahabat yang kebetulan mendengarkan dengan cukup teliti, dan mencoba menuangkan apa...

Hutan Hujan dan Beruang dari Kutub

Hutan Hujan dan Beruang dari Kutub Dulu, aku adalah hutan hujan tropis lebat, rimbun, basah oleh embun harapan. aku menyambut siapa saja yang datang dengan tangan terbuka dari akar-akar yang panjang. Aku menyayangi setiap yang berlalu, dan menyimpan kisah mereka di celah batang dan bunga yang mekar. Lalu datanglah singa megah, mengaum dengan janji kekuasaan. Ia menari di atas tanahku, berlari di antara ilalang, dan kukira ia ingin tinggal. Namun, ia bukan ingin berteduh. Ia merusak. Mengoyak semak, membakar alang-alang, membuat burung-burung pergi, dan aliran sungaiku kering dalam kesedihan yang tak bersuara. Aku marah. Aku memerintahkan seluruh penghuni pergi. Aku tutup pintu-pintu rimbaku, aku tak ingin siapa pun menginjak tanahku lagi. Namun ada dua yang bertahan: seekor monyet ceria yang suka berceloteh dan seekor sapi sabar yang senyumnya seperti matahari sore. Mereka tinggal. Mereka membersihkan reruntuhan dengan ketulusan yang tenang. Mereka menanam kembali bunga, menyiram luka-...