Geografi Gender di Rumah Kita Sendiri
Ada pemandangan yang familiar di banyak rumah kita: ketika tamu datang, laki-laki berkumpul di ruang tamu—duduk di sofa, mungkin membicarakan pekerjaan, politik, atau bisnis. Sementara itu, perempuan—apapun latar belakang mereka—entah bagaimana selalu berakhir di dapur, meski rumah itu juga milik mereka.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah peta kekuasaan yang sudah kita internalisasi begitu dalam hingga hampir tidak terlihat.
Dapur sebagai “Ruang Aman” Perempuan
Kita sering mendengar dapur disebut sebagai “kerajaan perempuan,” seolah-olah itu adalah pemberian kekuasaan. Tapi mari kita jujur: ini adalah kekuasaan yang terbatas, yang dikurung dalam empat dinding dengan kulkas dan kompor. Sementara “kerajaan” laki-laki adalah ruang tamu, ruang kerja, dan pada akhirnya—dunia luar.
Yang lebih menyedihkan: pembagian ini terjadi apapun kelas sosial perempuan tersebut.
Seorang dokter, pengacara, atau eksekutif perusahaan—begitu ia masuk ke rumah temannya sebagai tamu, ia akan “dialihkan” ke dapur bersama ibu rumah tangga dan perempuan lainnya. Seolah-olah pencapaian profesionalnya memudar begitu ia memasuki ruang domestik. Di mata pembagian ruang ini, yang penting bukan siapa dia, tapi bahwa dia perempuan.
Ruang Tamu: Teater Kekuasaan Maskulin
Ruang tamu bukan sekadar tempat menerima tamu. Ia adalah panggung untuk percakapan “penting,” tempat di mana keputusan—atau setidaknya diskusi tentang hal-hal yang dianggap bernilai—terjadi. Ia adalah ruang representasi, wajah rumah kepada dunia luar.
Dan secara historis serta kultural, wajah itu adalah wajah laki-laki.
Papa menerima tamu di ruang tamu. Papa yang berbincang dengan tamu penting. Meski rumah itu juga milik mama, meski mama yang mungkin mendesain interior ruang tamu itu, dia tidak duduk di sana sebagai tuan rumah setara. Ia ada di dapur—menyiapkan teh, mengatur makanan, melayani.
Ketika Perempuan Melayani di Rumahnya Sendiri
Inilah ironi yang paling dalam: di rumahnya sendiri, perempuan menjadi pelayan.
Mama tidak duduk di ruang tamu bersama tamu papa bukan karena dia tidak tertarik atau tidak mampu berbicara tentang topik yang sama. Dia tidak di sana karena ada ekspektasi tak tertulis bahwa tempatnya adalah di dapur, memastikan semua orang terlayani dengan baik.
Dan tamu-tamu perempuan yang datang? Mereka “bergabung” dengan mama di dapur—bukan karena mereka ingin membantu memasak, tapi karena di situlah ruang yang “sesuai” untuk mereka.
“Tapi Mereka Nyaman di Sana”
Seringkali, ketika pola ini dipertanyakan, jawabannya adalah: “Tapi mereka memang lebih nyaman ngobrol di dapur.” Atau “Mereka kan memang mau ngobrol sambil masak.”
Tapi apakah itu pilihan yang benar-benar bebas? Atau kenyamanan yang sudah dikondisikan sedemikian rupa sejak kecil?
Ketika sejak kecil perempuan melihat ibunya, tantenya, neneknya selalu di dapur saat ada tamu, ketika mereka sendiri ditarik ke dapur saat remaja “untuk membantu mama,” sementara saudara laki-lakinya boleh duduk di ruang tamu—apa yang kita sebut “nyaman” sebenarnya adalah hasil dari normalisasi segregasi.
Ruang Domestik sebagai Batas Perempuan
Yang membuat pola ini begitu problematis adalah pesannya yang lebih besar: bahwa apapun pencapaian perempuan di luar rumah, ranah domestik tetap menjadi identitas utamanya.
Seorang perempuan bisa menjadi CEO, tapi di rumah temannya, ia tetap akan berbincang di dapur. Seolah-olah ada pengingat konstan: “Di luar sana kamu boleh berkuasa, tapi ini adalah tempatmu yang ‘sebenarnya.’”
Ini adalah bentuk halus dari apa yang disebut “second shift”—bahwa perempuan, apapun peran publiknya, tetap memiliki tanggung jawab utama terhadap ranah domestik. Dan rumah orang lain pun menjadi perpanjangan dari ekspektasi itu.
Memecah Peta yang Sudah Tergambar
Mengubah pola ini bukan berarti melarang perempuan masuk dapur atau memaksa semua orang duduk di ruang tamu. Ini tentang kesadaran dan pilihan.
Ini tentang mama yang bisa duduk di ruang tamu bersama tamu papa jika dia mau, dan tidak ada yang menganggap itu aneh. Ini tentang papa yang juga ke dapur, tidak hanya sekadar mengambil minum tapi benar-benar ikut menyiapkan jamuan. Ini tentang tamu perempuan yang bisa memilih: ingin ngobrol di ruang tamu atau di dapur—bukan karena jenis kelaminnya, tapi karena preferensi percakapan atau suasana yang diinginkan.
Dan mungkin yang paling penting: ini tentang mengakui bahwa pembagian ruang adalah pembagian kekuasaan. Ketika kita terbiasa melihat perempuan hanya di dapur dan laki-laki di ruang tamu, kita sedang menerima narasi tentang siapa yang pantas berada di mana, siapa yang berhak berbicara tentang apa.
Rumah adalah Cermin Masyarakat
Apa yang terjadi di rumah adalah mikrokosmos dari struktur sosial yang lebih besar. Ketika kita tidak mempertanyakan mengapa papa dan mama punya “wilayah” berbeda untuk tamu mereka, kita juga tidak akan mempertanyakan mengapa ada begitu sedikit perempuan di ruang-ruang pengambilan keputusan di luar sana.
Karena sejak dari rumah, kita sudah belajar: ada ruang untuk laki-laki, ada ruang untuk perempuan. Dan ruang untuk perempuan selalu yang lebih kecil, lebih tersembunyi, lebih “domestik.”
Jadi lain kali ketika ada tamu di rumah, perhatikan: siapa duduk di mana? Siapa yang melayani? Siapa yang berbincang tentang apa? Dan tanyakan pada diri sendiri: apakah ini pilihan bebas, atau peta yang sudah tergambar sejak lama?
Mungkin sudah waktunya kita menggambar ulang peta itu.
Komentar
Posting Komentar