Superman dan Duka yang Tak Terlihat: Surat dari Seorang Fans Baru untuk Semesta yang Telah Pergi
Aku baru saja menonton Superman siang ini. Bukan Superman yang lama, bukan dewa kelam dalam bayang-bayang Snyder, tapi pria muda yang melayang ringan dalam langit biru milik James Gunn.
Film itu—secara objektif—bagus. Sederhana. Hangat. Sarat idealisme. Mengajak percaya pada kebaikan di tengah dunia yang sinis. Sebuah pembuka yang menjanjikan untuk semesta baru, DC Universe (DCU), yang katanya lebih konsisten, lebih terkendali, dan akhirnya: lebih masuk akal.
Tapi meskipun aku baru memulai perjalanan ini, aku merasa kehilangan.
Sebuah Duka yang Bukan Milikku, Tapi Nyata
Aku bukan pengikut lama Snyderverse.
Aku bukan pembela mati-matian Zack Snyder atau pemuja Henry Cavill.
Aku bahkan belum sempat menonton semua film DCEU secara lengkap.
Namun entah kenapa, aku tetap merasakan duka ketika semesta itu benar-benar berakhir.
Mungkin karena aku datang terlambat. Mungkin karena aku baru mulai mencintai ketika semuanya sudah berubah.
Tapi siapa bilang cinta harus lama untuk bisa merasa kehilangan?
Superman: Antara Harapan dan Penderitaan
Superman dalam film tadi adalah pria yang masih belajar terbang, secara harfiah dan metaforis. Ia bicara tentang harapan dengan polos, tentang kebaikan dengan yakin. Ia mengulurkan tangan bahkan ketika dunia meragukannya.
Dan aku terharu.
Tapi di sela-sela adegan optimis itu, aku teringat pada Superman yang dulu—yang tidak hanya menyelamatkan manusia, tapi juga bertarung melawan kerapuhan eksistensialnya sendiri.
Yang memikul beban bukan hanya karena ia bisa, tapi karena tak ada pilihan lain.
Superman yang diusir, dibenci, dimakamkan dalam hujan.
Yang terbang bukan untuk memamerkan kekuatan, tapi untuk menebus dunia yang tak yakin apakah ia pahlawan… atau ancaman.
Dunia yang Berubah, Narasi yang Berganti
Mungkin kita memang butuh Superman yang baru.
Mungkin generasi ini, yang hidup dalam kebisingan algoritma, butuh pahlawan yang lebih ringan, lebih ramah, lebih menyala di TikTok.
Tapi apakah itu berarti kita harus melupakan pahlawan yang lama?
Apakah narasi tentang duka, kehancuran, dan kebingungan moral harus dibuang hanya karena dianggap terlalu “gelap”?
Apakah kisah tentang trauma dan keilahian yang menyesakkan tidak lagi relevan?
Dari Kekacauan ke Konsistensi:
Tapi dengan Harga Apa?
DCU adalah janji. Bahwa segala sesuatu akan lebih jelas.
Bahwa semesta tidak lagi kacau. Bahwa pahlawan kita akan lebih mudah dimengerti.
Tapi dalam usahanya merapikan semuanya, ada sesuatu yang hilang.
Kekacauan itu, ketidaksempurnaan itu, justru adalah bagian dari daya tarik DCEU bagi banyak orang.
Karena hidup tidak selalu rapi.
Karena tidak semua pahlawan tahu jawabannya sejak awal.
Karena bahkan dewa pun bisa tersesat
Menutup Layar, Membuka Hati
Aku keluar dari bioskop siang itu dengan hati penuh, bukan hanya karena filmnya, tapi karena sesuatu telah berakhir, dan sesuatu telah dimulai.
Aku bukan siapa-siapa dalam sejarah DC. Tapi aku seorang penonton yang kini membawa warisan itu bersamaku.
Mungkin aku terlambat untuk mencintai Superman yang dulu.
Tapi aku datang tepat waktu untuk mengenang…
dan menyambut yang baru dengan hati yang siap.
Karena menjadi fans bukan soal timeline, tapi soal keterikatan.
Dan setiap reboot bukan hanya awal baru… tapi juga pengakuan bahwa sesuatu pernah ada, dan layak dikenang.
🖤
“Goodbye, Kal-El yang dulu.
Selamat datang, Clark Kent yang baru.
Semoga langit selalu memberimu ruang untuk terbang, meskipun yang kau tinggalkan masih berdiri di tanah, menatap langit… dengan air mata kecil yang tak terlihat.”

Komentar
Posting Komentar