Langsung ke konten utama

KENAPA AKU MENGHILANG


Kenapa Aku Menghilang Setahun dan Kembali dengan Segala Perubahan yang Membentukku

Mungkin kamu bertanya-tanya, mengapa aku tiba-tiba menghilang begitu saja? Mengapa aku memilih untuk menarik diri dari segala hal yang pernah aku kenal, dari kehidupan yang dulu terasa begitu penuh arti? Mengapa, selama satu tahun penuh, aku memilih untuk bersembunyi dalam bayang-bayang, jauh dari dunia luar yang dulu aku anggap sebagai bagian dari diriku?

Ini bukanlah keputusan yang aku ambil dengan sadar. Lebih tepatnya, aku merasa hidup ini mengarah ke jalan yang gelap, jalan yang membuatku terjebak dalam kecemasan yang tak terungkapkan, dalam keraguan yang semakin dalam. Dan begitu banyak hal yang terjadi dalam setahun terakhir yang membuatku terdiam. Tekanan keluarga yang terus menerus, dengan segala ekspektasi yang terkadang terasa tak mungkin untuk dipenuhi, mengikis rasa percaya diriku sedikit demi sedikit. Seolah-olah, apa yang aku lakukan tidak pernah cukup, apa yang aku capai selalu tampak lebih rendah dari apa yang diharapkan.

Namun, rasa ketidakcukupan itu bukanlah satu-satunya yang menghantuiku. Sebuah kehilangan yang lebih besar datang dalam bentuk seseorang yang pernah sangat berarti bagi aku—seseorang yang aku cintai, yang ternyata memilih untuk melangkah ke dunia yang berbeda, dunia yang tidak lagi aku bagi dengannya. Dalam setahun itu, aku menyaksikan seseorang yang sangat aku cintai menikahi orang lain, dan aku, tanpa daya, menjadi bagian dari kenangan. Rasa sakitnya lebih dari sekadar patah hati. Itu adalah kehilangan yang membenamkan aku dalam kesendirian dan kesedihan yang tak terperikan.

Akibat dari semua itu, aku mundur dari semua yang pernah aku kenal. Aku menutup pintu-pintu kehidupan yang dulu terbuka lebar, meninggalkan teman-teman yang pernah aku anggap sebagai bagian dari diriku. Aku bersembunyi dalam kamar, menyelubungi diri dalam keheningan, merasa bahwa dunia luar tidak lagi memiliki tempat untukku. Kuliahku, yang seharusnya menjadi ruang untuk berkembang, berubah menjadi zona ketidakpastian dan kekacauan. Aku merasa tidak tahu lagi apa tujuan hidupku, apa yang seharusnya aku kejar, dan lebih buruk lagi, aku merasa bahwa aku sudah kehilangan kemampuan untuk bangkit.

Namun, hidup memiliki cara yang misterius dalam mengingatkan kita akan kekuatan yang terpendam dalam diri kita, meski kita tidak menyadarinya. Perlahan, aku mulai mencari cara untuk kembali. Aku mulai memberi diriku izin untuk keluar dari kesendirian itu, meskipun langkah pertamaku terasa berat dan penuh keraguan. Aku kembali beribadah, meskipun awalnya terasa kosong, seolah setiap doa hanya menjadi gema yang tak terjawab. Namun, entah bagaimana, ada kedamaian yang perlahan mulai menyusup ke dalam jiwa yang lelah ini.

Aku mulai menghadapai dunia lagi, keluar dari ruang yang selama ini aku buat untuk menyendiri. Aku mulai bertemu dengan teman-teman lama, yang meskipun terasa canggung, perlahan memberi aku rasa keterhubungan yang hilang. Aku mulai menerima pekerjaan yang berhubungan dengan passion-ku, meski awalnya aku ragu apakah aku mampu. Namun, semakin aku membuka diri untuk hal-hal baru, semakin aku merasa bahwa aku mulai kembali, mulai menemukan kembali diriku yang dulu hilang.

Dan sekarang, setelah melewati perjalanan yang panjang dan penuh pelajaran, aku bisa katakan: Aku kembali. Mungkin aku tak sepenuhnya sama seperti dulu, tapi aku lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih siap untuk menghadapi segala tantangan yang datang. Aku belajar bahwa terkadang kita harus menghilang untuk bisa menemukan makna yang lebih dalam dalam hidup ini, untuk bisa lebih mengenal diri kita sendiri, dan untuk bisa bangkit lebih kuat dari sebelumnya.

Jika kamu merasa terjebak dalam kegelapan, jika kamu merasa dunia ini terlalu berat, aku ingin kamu tahu satu hal: Ini bukan akhir. Terkadang, kita harus kehilangan sesuatu bahkan diri kita sendiri untuk bisa menemukan jalan yang lebih baik, lebih autentik, dan lebih bermakna. Jangan takut untuk menghilang sejenak, karena dari ketiadaan itulah kita bisa tumbuh menjadi versi diri kita yang lebih utuh.

Aku kembali, dan aku lebih siap dari sebelumnya untuk menjalani hidup ini.




Tertulis Aku untuk Aku..... Happy New year 2025



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hutan Hujan dan Beruang dari Kutub

Hutan Hujan dan Beruang dari Kutub Dulu, aku adalah hutan hujan tropis lebat, rimbun, basah oleh embun harapan. aku menyambut siapa saja yang datang dengan tangan terbuka dari akar-akar yang panjang. Aku menyayangi setiap yang berlalu, dan menyimpan kisah mereka di celah batang dan bunga yang mekar. Lalu datanglah singa megah, mengaum dengan janji kekuasaan. Ia menari di atas tanahku, berlari di antara ilalang, dan kukira ia ingin tinggal. Namun, ia bukan ingin berteduh. Ia merusak. Mengoyak semak, membakar alang-alang, membuat burung-burung pergi, dan aliran sungaiku kering dalam kesedihan yang tak bersuara. Aku marah. Aku memerintahkan seluruh penghuni pergi. Aku tutup pintu-pintu rimbaku, aku tak ingin siapa pun menginjak tanahku lagi. Namun ada dua yang bertahan: seekor monyet ceria yang suka berceloteh dan seekor sapi sabar yang senyumnya seperti matahari sore. Mereka tinggal. Mereka membersihkan reruntuhan dengan ketulusan yang tenang. Mereka menanam kembali bunga, menyiram luka-...

Nggak Apa-Apa Kok Kalau Kamu Capek Duluan

Nggak Apa-Apa Kok Kalau Kamu Capek Duluan Untuk kamu yang pernah berjuang sendirian tanpa tahu arahnya ke mana. Kamu pernah nggak sih, suka sama seseorang, tapi rasanya kayak lagi ngobrol sendirian di ruang kosong? Kamu kasih perhatian, tapi dibalas singkat. Kamu kirim pesan panjang, tapi cuma dapat “udah” atau “oke.” Kamu bertanya-tanya terus: “Aku salah apa ya?” Padahal, sebenarnya kamu nggak salah. Kadang, kita terlalu sibuk membuktikan bahwa kita layak dicintai, sampai lupa kalau dicintai itu bukan sesuatu yang harus dibuktikan mati-matian apalagi kalau kita sendirian yang usaha. Mungkin kamu udah kasih yang terbaik. Mungkin kamu bahkan sampai ngerasa, “kok aku aja yang mikirin semuanya, ya?” Tapi, tahu nggak? Itu bukan karena kamu lemah. Itu karena kamu punya hati yang besar. Dan itu indah tapi juga melelahkan. Jadi kalau kamu merasa capek, itu wajar. Kalau kamu akhirnya mundur, itu bukan berarti kamu kalah. Kamu cuma milih untuk sayang sama diri sendiri duluan. Kamu sadar, kalau ...

Kematian Versi Pamona

Gua, Yumu, dan Tubuh yang Belum Selesai oleh Chinta yang idealis, dengan hubungan rumit bersama kopi sachet dan coding Excel 😘 Pernahkah kamu membayangkan sebuah gua bisa menjadi perpustakaan? Bukan untuk buku, melainkan untuk tubuh manusia arsip kehidupan yang belum selesai. Aku masih ingat jelas saat pertama kali memasuki Gua Tangkaboba di daerah Pamona. Langkah pertama itu seperti membuka pintu ke dunia lain: udara langsung lembap, suasana sangat sunyi, dan jujur saja, aku cukup gugup ini gua sungguhan, bukan seperti gua yang biasa muncul di katalog wisata. Namun, lebih dari itu, yang membuatku tercengang adalah suasananya yang sakral sekaligus apa adanya. Gua ini bukan hanya tempat menyimpan tulang; ini adalah arsip budaya yang masih hidup.  Yumu: Arsip Tubuh yang Belum Usai Yumu—peti kayu untuk jenazah—adalah simbol yang kuat di sana. Bentuknya menyerupai rumah kecil, kadang mirip perahu. Ini bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol perubahan status. Dalam banyak sistem ...