Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Superman dan Duka yang Tak Terlihat: Surat dari Seorang Fans Baru untuk Semesta yang Telah Pergi

Superman dan Duka yang Tak Terlihat: Surat dari Seorang Fans Baru untuk Semesta yang Telah Pergi Aku baru saja menonton Superman siang ini. Bukan Superman yang lama, bukan dewa kelam dalam bayang-bayang Snyder, tapi pria muda yang melayang ringan dalam langit biru milik James Gunn. Film itu—secara objektif—bagus. Sederhana. Hangat. Sarat idealisme. Mengajak percaya pada kebaikan di tengah dunia yang sinis. Sebuah pembuka yang menjanjikan untuk semesta baru, DC Universe (DCU), yang katanya lebih konsisten, lebih terkendali, dan akhirnya: lebih masuk akal. Tapi meskipun aku baru memulai perjalanan ini, aku merasa kehilangan. Sebuah Duka yang Bukan Milikku, Tapi Nyata Aku bukan pengikut lama Snyderverse. Aku bukan pembela mati-matian Zack Snyder atau pemuja Henry Cavill. Aku bahkan belum sempat menonton semua film DCEU secara lengkap. Namun entah kenapa, aku tetap merasakan duka ketika semesta itu benar-benar berakhir. Mungkin karena aku datang terlambat. Mungkin karena aku baru mulai men...

Edisi Film

Sepotong Refleksi Setelah Call Me Chihiro Ada malam-malam yang datang pelan, tanpa suara, hanya membawa rasa hangat yang merayap lembut ke dada. Hari ini, aku menonton Call Me Chihiro, sebuah film yang rasanya seperti hujan tipis di sore hari diam, menenangkan, tapi perlahan membasuh bagian hati yang lama tak disentuh. Chihiro berjalan sendirian, tapi tak pernah benar-benar sepi. Ia memeluk dunia dengan caranya sendiri, memungut sunyi di sudut-sudut kota, menanamkan benih hangat dalam tatapan orang-orang yang ia temui. Aku jatuh cinta pada caranya merawat luka, tanpa bertanya panjang, tanpa perlu alasan rumit. Seperti seseorang yang menaruh selimut di bahumu saat kau tertidur, diam-diam, penuh kasih. Film ini mengajarkanku bahwa kesendirian tidak selalu berarti kehilangan. Terkadang, ia adalah ruang untuk bertumbuh, untuk mendengar lagi bisikan hati sendiri, untuk merayakan detak yang kita lupakan saat terlalu sibuk mengejar dunia. Ada ketenangan yang menetes perlahan, menyejukkan, sea...

Mama, Aku Juga Ingin Dicintai

 Tentang Rumah, Cinta, dan Hak untuk Bahagia Kadang aku menulis hanya untuk memastikan perasaanku benar-benar ada. Kadang aku menulis supaya aku ingat: aku juga pantas bahagia. Mama, Sejak kecil aku belajar bahwa rumah tidak selalu berarti tempat paling aman. Aku belajar membaca ekspresi Papa lebih cepat daripada membaca buku cerita, belajar menahan napas saat suasana mulai menegang, dan belajar menutupi rasa takut dengan senyum tipis. Aku ingat Mama yang selalu bangun lebih pagi dari semua orang, berangkat kerja lebih awal, dan pulang dengan mata lelah yang tetap mencari-cari kami, anak-anakmu. Aku melihat punggung Mama yang tak pernah benar-benar bisa beristirahat. Aku mengingat bagaimana Mama menanggung segalanya sendirian, karena di rumah ini, cinta sering kali berarti diam, dan kesabaran perempuan dianggap kewajiban. Mama, aku juga ingin dicintai. Tapi bukan cinta yang mengharuskanku menahan tangis sendirian, atau cinta yang membuatku meragukan diriku sendiri. A...